THE LOG EPISODE 1



Aku berdiri di ujung tebing. Mencari ujung dunia di balik cakrawala. Melihat di kejauhan tempat mentari mulai terbenam. Di bawah tebing sudah mulai dirayapi gelap. Perlahan namun pasti gelap itu merayap dan menggapai ke arahku juga. Disini, di atas tebing.
Tercatat sudah 63 hari aku melakukan perjalanan entah dari mana menuju kemana. Setiap malam diisi dengan langit yang penuh bintang dan setiap siang adalah cerahnya mentari. Dua bulan lebih... aku tak melihat hujan atau kekeringan. Tidak ada hewan kecuali badak, serigala, dan kelinci. Kelinci, yang sangat mudah di temukan dan menjadi makanan favoritku beberapa hari ini. Jika aku tidak menemukan jenis tumbuhan yang bisa di makan, maka kelinci siap mengisi perut lapar.
Aku menyiapkan tempat tidur di atas tanah yang memiliki rerumputan kering di atasnya. Sambil duduk santai bersandar pohon kering yang telah tumbang, aku memandang ke arah korek zippo milikku dan api unggun yang cukup hangat di hadapanku. Zipp… zipp.. tanganku sambil memainkan korek itu tanpa benar-benar menyalakannya. Pandanganku mulai teralihkan pada malam cerah yang lagi-lagi bertabur bintang. Sebab aku juga tidak tau arah… maka bintang pula yang  menjadi satu-satunya patokan disetiap perjalananku.
Sebelum tidur selalu aku sempatkan mengisi buku harianku. Sebuah catatan kecil tentang perjalanan setiap harinya. Hari ke – 63. Tidak terjadi apapun dan aku mulai bosan.

Namaku Kan. Yap, hanya itu. Atau setidaknya itulah yang tertulis di buku kecil ini. sebuah buku misterius bertajuk The Log pada sampulnya. Buku ini sepertinya menulis semua tentangku sebelum aku kehilangan ingatan tentang dunia ini. Bercerita tentang namaku dan dari mana aku berasal. Kemana tujuanku dan apa yang aku cari. Apa yang terjadi dan apa yag telah aku lewati…
The Log.
Ingatlah bahwa aku bernama Kan. Ingatlah wahai diriku di masa depan. Karena mungkin kau.. atau aku yang sekarang akan melupakannya. Aku berasal dari dunia yang telah hancur, korban keingintahuan manusia dan waktu yang terus menua. Aku adalah sebuah simbol harapan dan keselamatan. Namun jika kisah ini berhenti padaku, maka runtuhlah semua simbol itu. Maka aku harus terus berjalan. Berjalan mencari dunia baru di luar sana. Berjalan mencari sebuah titik kehidupan untuk belajar, untuk berpetualang, dan untuk mencari umat manusia yang mungkin memiliki sisa. Selamat tinggal… dan selamat datang. Untukmu diriku di masa depan. Teruslan menulis setiap hari sebelum engkau tidur. Itu akan sangat membantu kelak.
Dan mataku terpejam perlahan setelah akhir kalimat itu.

Komentar